DUKA BERUJUNG BAHAGIA

( Oleh Juan Jun BujangRanto)

PART I

Surabaya:

imagesTak banyak kata terucap dari mulutku, senyum itu hilang entah kemana. Kaku rasanya bibir ini untuk berdegup, sulit rasanya untuk berkata, serasa hilang semua asa yang pernah engkau beri. Satu jam sudah lamanya kita duduk tanpa kata, tak ada yang ingin memulai percakapan. Apa karena rasa benci atau malah rindu yang menggebu. Kau buat seribu pertanyaan dalam hati ini, seakan bertanya, kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga aku kau diamkan.

            Dua piring nasi goreng ditemani kopi panas dimeja telah dingin. Seakan hambar semua rasa. Tak ada sesendokpun yang bersedia mencicipinya, apa karena koki yang sengaja membuat masakan ini terasa asin, atau memang ulah kita sehingga nasipun enggan untuk kita cicipi.

            Satu jam lewat tiga puluh menit telah berlalu, bibirmu bergetar terasa sudah seribu bait kata yang engkau keluarkan dari mulutmu. “sepertinya hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan”, “apa” kataku dengan nada tinggi. “orang tuaku mengenalkanku dengan seorang pemuda anak teman lamanya ketika masih remaja, dan aku dijodohkan dengan dia. Aku tidak bisa menolaknya, karena aku tidak ingin menyakiti hati kedua orang tuaku. Bukan karena aku tak cinta padamu, sungguh sesak dada ini rasanya ketika orang tuaku memberitahuku tentang perjodohan ini. Dan asal kamu tau, tanggal 25 bulan depan adalah hari pernikanku dengannya.”

            Tak ada rangkaian kata yang bisa aku ucapkan, hanya air mata yang mengalir dipipiku yang aku sendiri tidak tau darimana asalnya dan entah kenapa harus ada. Sulit rasanya untuk membendung rasa ini, 5 tahun lamanya aku dan dia telah menjalin hubungan namun ternyata harus berakhir dengan menyakitkan.

            Ruang persegi empat dengan ukuran 3 x 3 yang dihiasi dengan interior sebuah meja yang berada tepat disamping pintu, sebuah lemari yang berdiri tegap seolah tanpa ada beban hidup, dan sebuah gitar yang melekat didinding seakan terasa melantunkan alunan melodi sendu kepedihan. Aku terduduk dipojok ruangan, sambil melipatkan kedua tangan dan menyandarkan daguku ke lutut, seakan masih terlintas kata2 yang dia ucapkan yang tidak pernah hilang dari pendengaran. Air mata yang tak pernah henti-hentinya mengucur serasa sudah tak ada lagi tanggul yang mampu membendungnya. Kicauan burung yang yang hinggap dipohon sebelah kamarku, seakan mengejekku bahwa ini adalah takdirku.

 

Jakarta:

            Empat tahun telah berlalu, penderitaan yang kurasa telah lama sirna dari kehidupanku. Seakan masalah tersebut adalah sebagai tonggak awal dari keberhasilan untuk lebih maju. Kini aku bangkit, aku berlari kencang bak jaguar, aku terbang tinggi bagai elang, penuh semangat umpama genderang perang.

Gedung 27 tingkat yang tegap berdiri kokoh tepat kutatap dihadapanku dengan tulisan “PT. AIR MECHINE”, yaitu perusahaan jasa penyedia sparepart pesawat terbang yang berada didaerah Jakarta selatan. Perusahaan ini kurintis sejak tiga setengah tahun yang lalu. Direktur Utama, itulah jabatanku saat ini, segala daya dan upaya, jerih payah terbayar tuntas dan aku bisa menikmati hasil keringatku. Tak ada yang tak bisa kubeli, dengan uang yang berlimpah, apapun yang aku inginkan dengan mudah bisa kudapatkan.

Hari itu hari sabtu, jam kerja tidak seperti biasanya, karena merupakan hari weekend. Jam dinding tepat menunjukkan pukul 15.00 wib. Aku bergegas bangun dari kursi kerjaku. Lembar kerja yang terbuka dihalaman laptop kusimpan dan kumatikan,  dan aku beranjak keluar dari ruangan yang terletak tepat dilantai paling atas.

Lift menunjukkan angka 1, aku keluar menuju pintu utama sambil menoleh kanan kiri menatap tiap sudut ruangan paling dasar dari perusahaanku. Sebuah mobil dengan merk Ferrari terparkir tepat didepan pintu utama. Kunaiki mobil tersebut sambil sesekali tersenyum dan melaju kearah pintu gerbang menuju jalan raya. seperti biasa, tak lupa senyum sapa yang kulayangkan kepada seorang satpam sambil berkata “duluan pak.” Seraya satpam menjawab “mari pak”.

Selang hanya sekedip mata aku menoleh, kulihat sesosok perempuan berdiri tepat di trotoar pinggir jalan raya. Dengan wajah yang berbinar dan mata yang bercahaya seolah ingin mengeluarkan air mata. Wajah itu tak asing bagiku, wajah yang sangat lama kukenal. Maya, itulah nama wanita tersebut. Wanita yang empat tahun lalu telah menorehkan luka dihatiku, wanita yang telah menyakiti perasaanku, yang meninggalkanku tanpa adanya pembelaan sedikitpun dariku untuk mengungkapkan alasan dari penghianatannya.

Kulaju mobilku dengan kecepatan rendah dan tepat berada disampingnya. Dengan wajah saling menatap, seakan tersirat dari raut mukanya penyesalan yang tak terhingga. Seolah aku tak mengenalnya akupun mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi. Dalam hati berkata, kenapa dia datang lagi dalam hidupku, kenapa dia berada tepat disampingku. TIDAK, ini tidak bisa terjadi, aku harus move on, ini tidak akan terulang tuk kedua kalinya….

 

To be continue……

 

Malang, 12 juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s